CERITA SEX GAY "MARCO BAGIAN 2"
SAMBUNGAN BAGIAN 1
Hingga akhirnya, suatu hari aku ditugaskan selama 4 hari untuk suatu
pekerjaan di luar kota bertiga dengan staff Audit bernama Mas Harjo,
dan…. siapa lagi?, juga Marco...!. Pada hari yang ditentukan kami
berangkat bersama dari kantor tapi ternyata Mas Harjo berniat mengajak
Rika tunangannya untuk menemani dia, dengan syarat tidak boleh ada orang
kantor yang mengetahuinya. Mas Harjo usianya sudah 50-an tahun, sudah
cukup tua, tapi dia masih bujangan, tepatnya duda!, karena dia sudah
bercerai dari istri pertamanya sehingga sekarang dia bebas bergaul dan
mendekati wanita yang dia sukai.
Sesuai peraturan perusahaan, kami seharusnya tinggal di penginapan
bertiga dalam satu kamar, tetapi karena Mas Harjo mengajak tunangannya,
dia terpaksa menyewa kamar tersendiri sedangkan aku tinggal berdua
sekamar dengan Marco dan kebetulan letak kamarnya bersebelahan dengan
kamar Mas Harjo.
Sebenarnya aku was was tinggal sekamar dengan Marco. Aku khawatir kalau
kedekatanku dan tinggal sekamar dengannya bisa menjadi penyebab
sebenarnya yang bisa menjerumuskan aku kembali kedunia seks sejenis.
Tapi untunglah pada hari pertama itu kami langsung disibukkan oleh
pekerjaan sampai malam hari sehingga kami terpaksa makan malam di
jalanan dan baru kembali ke hotel hampir menjelang tengah malam.
Setelah mandi dan beres beres, aku dan Marco duduk menonton TV di kamar
tapi ketenangan kami terganggu karena mendengar suara gaduh dari kamar
Mas Harjo dan Rika disebelah.
Aku dan Marco mengobrol soal suara suara itu dan tertawa cekikikan
membicarakan Mas Harjo dan dan pacarnya dikamar sebelah. Apalagi, Mas
Harjo dan pacarnya sengaja mendesah-desah hingga kedengaran ditelinga
kami. Sejujurnya aku deg-degan juga mendengar desahan dari kamar sebelah
yang mirip suara orang terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin
berdegup kencang ketika aku mendengar desahan itu dan membayangkan apa
yang sedang mereka lakukan dikamar sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan
Marco diam terpaku.
Suasana beraroma birahi sepertinya ikut memenuhi udara di kamar kami
juga dan ....tiba-tiba Marco merangkul bahuku yang saat itu sedang duduk
disampingku diatas sofa. Tanpa berkata apa-apa dia lancang langsung
mencium bibirku!. Duh...!, Aku tidak sempat menghindar, bahkan sekali
lagi aku membiarkan bibir Marco menempel kebibirku hingga beberapa saat.
Dadaku semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir halus Marco
melumat mulutku. Lidah Marco menelusup kecelah bibirku dan menggelitik
hampir semua rongga mulutku.
Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu
tengkukku merinding. Oooooohhhhh.....!.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Marco supaya ia
melepaskan pelukannya pada diriku.
"Marc, jangan Marc, ini enggak pantas kita lakukan..! " kataku terbata-bata.
Marco memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang
kekar dan kuat masih tetap memeluk bahuku dengan erat. Aku juga masih
terduduk disampingnya.
"Kenapa nggak pantas Bang?, toh Bang Tio jarang ketemu sama Istri. Bang
Tio juga suka sama Marco kan??. Beri aku kesempatan Bang"
Ujar Marco yang terdengar seperti memaksa..
Aku tidak mengerti bagaimana Marco begitu penuh percaya diri?, dan
kenapa dia seperti tahu bahwa aku tidak akan menolak dirinya?.
Setelah itu Marco kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi
seluruh wajahku, lalu merambat keleher dan telingaku. Aku memang pasif
dan diam, namun harus kuakui, Marco sangat pandai mengobarkan naluri
sejenis di alam bawah sadarku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku
benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan birahi sejenis.
Bahkan dengan Istriku sekalipun belum pernah aku merasakan rangsangan
sehebat ini.
Berduaan didalam kamar yang tertutup dalam keadaan saling berdekapan
dengan laki laki yang disukai menimbulkan godaan godaan yang tak
terbendung. Jelas jelas tindakan Marco menjurus kearah birahi, nafsu
dan seks, apalagi dia begitu agresif!..
Aku dapat merasakan napas Marco mulai terengah-engah karena nafsu
birahi. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku
pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar
kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Marco yang kekar itu membuka
kancing kemejaku. Tak ayal lagi, dada bidangku yang atletis itu terbuka
didepan Marco. Secara refleks aku masih coba berontak.
"Cukup Marc! Jangan diterusin Aku takut.." Kataku sambil meronta dari
pelukannya.
"Takut dengan siapa Bang? Toh gak ada yang tahu. Percaya sama Marco deh.
Aku akan menyenangkan Bang Tio "
Jawab Marco dengan napas memburu.
Seperti tidak perduli dengan protesku, Marco yang telah melepas bajuku.
Meskipun aku berusaha meronta, namun tidak berguna sama sekali. Sebab
tubuh Marco yang tegap dan kuat itu mendekapku dengan sangat erat,
lagipula aku tidak benar benar melawan, karena selama belasan tahun
didalam hati kecilku aku merindukan perlakuan laki laki seperti ini.
Kekasaran sikap Marco yang menjamah tubuhku dan mencumbui jiwaku, terasa
begitu menggetarkan bathinku sehingga rasa haus dahaga terhadap
keperkasaan laki laki jantan yang selama ini terpendam jauh di alam
bawah sadarku seperti dibangunkan dari persembunyian.
Kini, dipelukan Marco, tubuhku yang bertelanjang dada aku masih berpura
pura berontak. tetapi dengan cepat tangan Marco memegangi lenganku dan
merentangkannya. Setelah itu Marco mengangkat dan merebahkan tubuhku
ditempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Marco melumat puting tetek
di dada bidangku sementara salah satu tangannya juga langsung
meremas-remas puting dada yang lainnya. Bagaikan seekor singa buas ia
menjilati dan meremas dan menggigiti dengan gemas. Itulah titik
kelemahan yang bisa membuat gairahku langsung terangsang...!.
Aku meratap didalam hati: Duuuuh maafkan aku istriku....!, maaf aku
yang tak mampu menolak gairah yang bergolak ini.
Ampuuuuni aku istriku.....
Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan
mengerang karena rangsangan gairah yang mencengkeramku. Aku
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat
ketika bibir dan lidah Marco menjilat dan melumat puting di dada bidangku.
" Abang.. aku nafsu sama abaaaang. Aaa.. aku makin nggak ta.. tahan.. ,
sayang.. , " Kata Marco terputus-putus karena nafsu birahi yang kian
memuncak. Dan dia mulai menyebutku dengan kata "sayang"
Kemudian Marco turun menciumi dan menjilati perut dan pusarku. Dengan
lidahnya, ia pandai sekali mengelitik dada bidangku hingga perutku.
Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora
itu. Aku tak heran Marco begitu agresif dan terlihat berpengalaman,
karena sebagai pemuda berumur 25 tahun, dia sudah bukan remaja yang
masih "hijau" dan pasti sudah sering digoda oleh para pengagum yang
memuja lelaki macho yang gagah.
Kemudian tanpa kuduga, Dengan cepat Marco melepas celana dan celana
dalamku. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan
tenaga kuat kuat yang dimiliki Marco, dengan mudah ia menaklukkan
perlawananku.
Sekarang tubuhku benar-benar telanjang total dihadapan Marco. Sungguh,
sejak aku menikahi istriku dulu, aku belum pernah sekalipun telanjang
dihadapan wanita lain, apalagi laki-laki, kecuali dihadapan Istriku.
Sebelumnya aku juga tak pernah terpikir akan melakukan perbuatan seperti
ini. Tetapi kini, Marco berhasil menguasaiku. Sementara aku seperti
pasrah tanpa daya.
"Marc, tolong jangan diteruskan Maaaarrrccc...aa..... Aku tidak ingin
merusak keutuhan perkawinanku..! "
Pintaku sambil berbaring tanpa daya diatas ranjang dalam keadaan
sepenuhnya telanjang bulat.
"Abaaang.... Apa abang. nggak kasihan padaku sayang..? , aku sudah
terlanjur terbakar.. , aku nggak kuat lagi sayang, please aku.. mohon "
Kata Marco kembali menyebutku "sayang" dan masih dengan terbata-bata
dengan wajah yang memelas.
Entah karena tidak tega atau karena aku sendiri juga telah terlanjur
terbakar birahi, aku akhirnya diam ketika Marco kembali menyergap
tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggerayangi sekujur tubuhku,
sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan
kakiku. Heran aku jadi menikmati perasaan tak berdaya didalam dominasi
Marco yang begitu menguasai diriku. Mataku benar-benar merem-melek
merasakan kenikmatan itu. Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Marco beranjak dan dengan cepat melepas sendiri semua pakaian
yang menempel ditubuhnya.
Kini Marco sama sama telanjang bulat-bulat seperti aku. Yyaaaa
ampuuuuun, aku tidak dapat percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar
dengan sesama lelaki berumur jauh lebih muda yang sedang bernafsu...!,
ooohh. Aku melihat tubuh Marco yang memang benar-benar atletis, besar
dan kekar terutama otot-otot perutnya. Ia lebih tinggi dan lebih besar
dibandingkan dengan teman temanku yang berperawakan sedang-sedang saja.
Astaga!, yang membuat dadaku berdegub lebih keras adalah benda
diselangkangan Marco. Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku
itu berwarna coklat muda dan kini tegak mengacung. Panjangnya kutaksir
tidak kurang dari 20an cm, jauuuh lebih besar dari kemaluan punyaku,
sementara besarnya sekitar 2 sampai 3 kali lipatnya. Sungguh aku tak
percaya, laki-laki semuda Marco memiliki penis sebesar dan sepanjang ini.
Ternyata betul laki laki berdarah Ambon yang berdarah panas rata rata
memiliki alat kelamin yang berukuran raksasa!. Kini kusaksikan dengan
mata kepalaku sendiri kedahsyatan ukuran kemaluan lelaki Ambon yang
begitu luar biasa!.
Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemes dan penasaran. Sejenak aku
sempat membayangkan kerusakan fatal yang bisa terjadi apabila penis yang
besar dan keras itu dientotkan ke vagina perempuan. apakah wanita akan
merasa nikmat??
Marco memergoki tatapan mataku.
"Besaran mana sama milik Bang Tio hayoo..? " Goda Marco.
Aku tidak menjawab karena kenyataannya aku mengakui, penis Marco jauh
lebih panjang dan lebih besar dibandingkan punyaku. Padahal usia Marco
jauh lebih muda.
Kini tubuh telanjang Marco mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika
merasakan dada bidang Marco menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang
melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru
kali ini kurasakan lagi dekapan sesama lelaki. Aku menggeliat geliat dan
Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal
lelah menggerayangi sekujur tubuhku.
Sekali lagi, sudah lama sekali aku tidak pernah kurasakan sensasi dan
rangsangan sedahsyat ini.
Marco memaksaku tetap berbaring telentang diatas tempat tidur.
Selanjutnya dia berjongkok dari tepi tempat tidur. Kedua kakiku
ditekukkannya ke atas. Mulutnya segera menari-nari didaerah
selangkanganku. Kontolku yang tegak mengacung keras dioralnya dengan
buas. Mulutnya tak henti menghisap, lidahnya terus menjilat, giginya
sesekali menggigit-gigit lembut batang kontol dan buah pelirku yang
penuh jembut.
Ohhhhhh......mengapa begitu nikmat??. Mengapa aku bisa menikmatinya???.
Tiba-tiba terbersit bayangan istriku dimataku. Ooooh... Aku merasa
bersalah pada istriku, karena ternyata aku menikmati cumbuan sesama
lelaki lagi. Lobang pantatku yang sudah bertahun tahun tak tersentuh
laki laki juga tak lupa dikerjai Marco. Kenapa dia tak merasa jijik
menjilati lobang pelepasanku itu?. Mengapa lidahnya tak sungkan-sungkan
menerobos celah sempit itu?. Aku mengerang-erang diantara rasa nikmat
yang kurasakan. Deru nafasku memburu bak banteng liar marah.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang basah berlumuran air liur
yang masuk dan menggelitik lubang anusku. Ternyata Marco nekat
memasukkan jari tangannya kecelah pantatku.Ia memutar-mutar telunjuknya
didalam liang duburku, menggelitik prostatku, sehingga aku benar-benar
hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat
serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku
memutar-muatarkan pantatku. Toh, aku masih pura pura berusaha menolaknya.
"Marc, jangan dimasukkan jarinya, cukup diluaran saja..!" Pintaku.
"Tidak apa apa, jangan takut sayang...!" Dan lagi-lagi Marco tidak
menggubrisku. Selanjutnya ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku,
lalu bibir dan lidahnya melumat habis selangkangan dan pantatku. Aku
tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan
kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Marco yang masih
melahap batang kemaluan dan jari tangannya yang dimasukan ke lubang
pantatku. Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi.
Rasanya geli, enak, dan sedikit sakit. Oooooohhhh...... tapi sakitnya
tak sebanding dengan rasa enaknya. Begitu nikmat. Tak kusangka lobang
pantat bila disodok-sodok dengan jari seperti ini ternyata enak.
Napas Marcopun sudah mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah
meningkat. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar
dihadapanku dan aku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat.
Jari jari tangan Marco terus mengorek-ngorek lobang pantatku dan mencoba
melebar-lebarkan lobang sempitku itu. Mulutnya tak henti menghisap
batangku. Lobang pantatku sepertinya mulai semakin melebar. Kini dua
jari Marco sudah bisa masuk kedalam. Lobang pantatku terasa penuh. Aku
semakin terangsang oleh isepan mulut Marco yang demikian hebat. Tubuhku
basah bersimbah keringat. Begitupun tubuh Marco.
Melihat gelagatku yang sudah tak berdaya dikuasai nafsu birahi, Marco
beranjak dan dengan cepat ia menindihku dari atas. Dari kaca lemari yang
terletak disebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuhku
seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Marco yang tinggi besar
mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca
lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh sesama
lelaki yang juga sedang telanjang bulat.
Marco kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi,
aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk
menggelitik rongga mulut Marco. Marco terpejam merasakan seranganku,
sementara tangan kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan
dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi
masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh
Marco. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal
mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika
kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Marco.
Mendadak sepasang paha kukuh Marco menggeser kedua kakiku sampai
selangkanganku terbuka lebar lalu kurasakan batang zakar itu mengganjal
tepat dibibir lubang duburku yang sudah licin dan basah berlepotan air
liur. Rupanya Marco nekat berusaha memasukkan batang penisnya
kepantatku. Tentu saja aku tersentak dan menolak...!!.
Marco kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi,
aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk
menggelitik rongga mulut Marco. Marco terpejam merasakan seranganku,
sementara tangan kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan
dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi
masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh
Marco. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal
mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika
kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Marco.
Mendadak sepasang paha kukuh Marco menggeser kedua kakiku sampai
selangkanganku terbuka lebar lalu kurasakan batang zakar itu mengganjal
tepat dibibir lubang duburku yang sudah licin dan basah berlepotan air
liur. Rupanya Marco nekat berusaha memasukkan batang penisnya
kepantatku. Tentu saja aku tersentak dan menolak...!!.
"Marc.. jangan dimasukkan..! " Kataku sambil tersengal-sengal menahan
nikmat.
Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus , sebab disisi hatiku
yang lain sejujurnya aku juga penasaran ingin merasakan bagaimana
rasanya batang kemaluan yang besar itu masuk kelubang anusku.
"Taangguung, saayang. Aku nggak tahhan..! " Ujarnya dengan terus
menggesek gesek bibir duburku secara perlahan.
Ah dasar laki laki!, Marco tahu persis kalau aku sudah dimabuk oleh
gesekan batang kejantanan sesama lelaki,
Marco menggenggam lenganku, kemudian dia menahanku dan kini dia menindih
badanku dengan badan dia sampai aku tidak bisa bergerak, aku melihat
wajahnya yang agak memerah, dengan nafas tersengal-sengal keringatnya
menetes di wajahku. Dia memagut bibirku, dan aku begitu bernafsu ketika
Marco menciumiku.
Aku merasa sangat gugup dan takut, aku melepaskan ciumanku dan berusaha
menolak Marco. Marco pun mulai memaksa, dia menepis tanganku dengan
sangat nafsunya Marco menggenggam kedua tanganku ke atas kepalaku dan
dia menggenggam kedua tanganku dengan hanya sebelah tangan saja, aku
tidak berdaya.
Aku panik dan ketakutan "Marco jangan! aku takut!" suaraku bergetar
pelan karena ketakutan,
"Sssssttt...." Marco menyuruhku untuk diam tetapi aku semakin ketakutan
"Aku sayang sama Abang..."
bujuknya.
BERSAMBUNG ...............
Hingga akhirnya, suatu hari aku ditugaskan selama 4 hari untuk suatu
pekerjaan di luar kota bertiga dengan staff Audit bernama Mas Harjo,
dan…. siapa lagi?, juga Marco...!. Pada hari yang ditentukan kami
berangkat bersama dari kantor tapi ternyata Mas Harjo berniat mengajak
Rika tunangannya untuk menemani dia, dengan syarat tidak boleh ada orang
kantor yang mengetahuinya. Mas Harjo usianya sudah 50-an tahun, sudah
cukup tua, tapi dia masih bujangan, tepatnya duda!, karena dia sudah
bercerai dari istri pertamanya sehingga sekarang dia bebas bergaul dan
mendekati wanita yang dia sukai.
Sesuai peraturan perusahaan, kami seharusnya tinggal di penginapan
bertiga dalam satu kamar, tetapi karena Mas Harjo mengajak tunangannya,
dia terpaksa menyewa kamar tersendiri sedangkan aku tinggal berdua
sekamar dengan Marco dan kebetulan letak kamarnya bersebelahan dengan
kamar Mas Harjo.
Sebenarnya aku was was tinggal sekamar dengan Marco. Aku khawatir kalau
kedekatanku dan tinggal sekamar dengannya bisa menjadi penyebab
sebenarnya yang bisa menjerumuskan aku kembali kedunia seks sejenis.
Tapi untunglah pada hari pertama itu kami langsung disibukkan oleh
pekerjaan sampai malam hari sehingga kami terpaksa makan malam di
jalanan dan baru kembali ke hotel hampir menjelang tengah malam.
Setelah mandi dan beres beres, aku dan Marco duduk menonton TV di kamar
tapi ketenangan kami terganggu karena mendengar suara gaduh dari kamar
Mas Harjo dan Rika disebelah.
Aku dan Marco mengobrol soal suara suara itu dan tertawa cekikikan
membicarakan Mas Harjo dan dan pacarnya dikamar sebelah. Apalagi, Mas
Harjo dan pacarnya sengaja mendesah-desah hingga kedengaran ditelinga
kami. Sejujurnya aku deg-degan juga mendengar desahan dari kamar sebelah
yang mirip suara orang terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin
berdegup kencang ketika aku mendengar desahan itu dan membayangkan apa
yang sedang mereka lakukan dikamar sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan
Marco diam terpaku.
Suasana beraroma birahi sepertinya ikut memenuhi udara di kamar kami
juga dan ....tiba-tiba Marco merangkul bahuku yang saat itu sedang duduk
disampingku diatas sofa. Tanpa berkata apa-apa dia lancang langsung
mencium bibirku!. Duh...!, Aku tidak sempat menghindar, bahkan sekali
lagi aku membiarkan bibir Marco menempel kebibirku hingga beberapa saat.
Dadaku semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir halus Marco
melumat mulutku. Lidah Marco menelusup kecelah bibirku dan menggelitik
hampir semua rongga mulutku.
Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu
tengkukku merinding. Oooooohhhhh.....!.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Marco supaya ia
melepaskan pelukannya pada diriku.
"Marc, jangan Marc, ini enggak pantas kita lakukan..! " kataku terbata-bata.
Marco memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang
kekar dan kuat masih tetap memeluk bahuku dengan erat. Aku juga masih
terduduk disampingnya.
"Kenapa nggak pantas Bang?, toh Bang Tio jarang ketemu sama Istri. Bang
Tio juga suka sama Marco kan??. Beri aku kesempatan Bang"
Ujar Marco yang terdengar seperti memaksa..
Aku tidak mengerti bagaimana Marco begitu penuh percaya diri?, dan
kenapa dia seperti tahu bahwa aku tidak akan menolak dirinya?.
Setelah itu Marco kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi
seluruh wajahku, lalu merambat keleher dan telingaku. Aku memang pasif
dan diam, namun harus kuakui, Marco sangat pandai mengobarkan naluri
sejenis di alam bawah sadarku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku
benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan birahi sejenis.
Bahkan dengan Istriku sekalipun belum pernah aku merasakan rangsangan
sehebat ini.
Berduaan didalam kamar yang tertutup dalam keadaan saling berdekapan
dengan laki laki yang disukai menimbulkan godaan godaan yang tak
terbendung. Jelas jelas tindakan Marco menjurus kearah birahi, nafsu
dan seks, apalagi dia begitu agresif!..
Aku dapat merasakan napas Marco mulai terengah-engah karena nafsu
birahi. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku
pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar
kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Marco yang kekar itu membuka
kancing kemejaku. Tak ayal lagi, dada bidangku yang atletis itu terbuka
didepan Marco. Secara refleks aku masih coba berontak.
"Cukup Marc! Jangan diterusin Aku takut.." Kataku sambil meronta dari
pelukannya.
"Takut dengan siapa Bang? Toh gak ada yang tahu. Percaya sama Marco deh.
Aku akan menyenangkan Bang Tio "
Jawab Marco dengan napas memburu.
Seperti tidak perduli dengan protesku, Marco yang telah melepas bajuku.
Meskipun aku berusaha meronta, namun tidak berguna sama sekali. Sebab
tubuh Marco yang tegap dan kuat itu mendekapku dengan sangat erat,
lagipula aku tidak benar benar melawan, karena selama belasan tahun
didalam hati kecilku aku merindukan perlakuan laki laki seperti ini.
Kekasaran sikap Marco yang menjamah tubuhku dan mencumbui jiwaku, terasa
begitu menggetarkan bathinku sehingga rasa haus dahaga terhadap
keperkasaan laki laki jantan yang selama ini terpendam jauh di alam
bawah sadarku seperti dibangunkan dari persembunyian.
Kini, dipelukan Marco, tubuhku yang bertelanjang dada aku masih berpura
pura berontak. tetapi dengan cepat tangan Marco memegangi lenganku dan
merentangkannya. Setelah itu Marco mengangkat dan merebahkan tubuhku
ditempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Marco melumat puting tetek
di dada bidangku sementara salah satu tangannya juga langsung
meremas-remas puting dada yang lainnya. Bagaikan seekor singa buas ia
menjilati dan meremas dan menggigiti dengan gemas. Itulah titik
kelemahan yang bisa membuat gairahku langsung terangsang...!.
Aku meratap didalam hati: Duuuuh maafkan aku istriku....!, maaf aku
yang tak mampu menolak gairah yang bergolak ini.
Ampuuuuni aku istriku.....
Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan
mengerang karena rangsangan gairah yang mencengkeramku. Aku
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat
ketika bibir dan lidah Marco menjilat dan melumat puting di dada bidangku.
" Abang.. aku nafsu sama abaaaang. Aaa.. aku makin nggak ta.. tahan.. ,
sayang.. , " Kata Marco terputus-putus karena nafsu birahi yang kian
memuncak. Dan dia mulai menyebutku dengan kata "sayang"
Kemudian Marco turun menciumi dan menjilati perut dan pusarku. Dengan
lidahnya, ia pandai sekali mengelitik dada bidangku hingga perutku.
Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora
itu. Aku tak heran Marco begitu agresif dan terlihat berpengalaman,
karena sebagai pemuda berumur 25 tahun, dia sudah bukan remaja yang
masih "hijau" dan pasti sudah sering digoda oleh para pengagum yang
memuja lelaki macho yang gagah.
Kemudian tanpa kuduga, Dengan cepat Marco melepas celana dan celana
dalamku. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan
tenaga kuat kuat yang dimiliki Marco, dengan mudah ia menaklukkan
perlawananku.
Sekarang tubuhku benar-benar telanjang total dihadapan Marco. Sungguh,
sejak aku menikahi istriku dulu, aku belum pernah sekalipun telanjang
dihadapan wanita lain, apalagi laki-laki, kecuali dihadapan Istriku.
Sebelumnya aku juga tak pernah terpikir akan melakukan perbuatan seperti
ini. Tetapi kini, Marco berhasil menguasaiku. Sementara aku seperti
pasrah tanpa daya.
"Marc, tolong jangan diteruskan Maaaarrrccc...aa..... Aku tidak ingin
merusak keutuhan perkawinanku..! "
Pintaku sambil berbaring tanpa daya diatas ranjang dalam keadaan
sepenuhnya telanjang bulat.
"Abaaang.... Apa abang. nggak kasihan padaku sayang..? , aku sudah
terlanjur terbakar.. , aku nggak kuat lagi sayang, please aku.. mohon "
Kata Marco kembali menyebutku "sayang" dan masih dengan terbata-bata
dengan wajah yang memelas.
Entah karena tidak tega atau karena aku sendiri juga telah terlanjur
terbakar birahi, aku akhirnya diam ketika Marco kembali menyergap
tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggerayangi sekujur tubuhku,
sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan
kakiku. Heran aku jadi menikmati perasaan tak berdaya didalam dominasi
Marco yang begitu menguasai diriku. Mataku benar-benar merem-melek
merasakan kenikmatan itu. Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba Marco beranjak dan dengan cepat melepas sendiri semua pakaian
yang menempel ditubuhnya.
Kini Marco sama sama telanjang bulat-bulat seperti aku. Yyaaaa
ampuuuuun, aku tidak dapat percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar
dengan sesama lelaki berumur jauh lebih muda yang sedang bernafsu...!,
ooohh. Aku melihat tubuh Marco yang memang benar-benar atletis, besar
dan kekar terutama otot-otot perutnya. Ia lebih tinggi dan lebih besar
dibandingkan dengan teman temanku yang berperawakan sedang-sedang saja.
Astaga!, yang membuat dadaku berdegub lebih keras adalah benda
diselangkangan Marco. Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku
itu berwarna coklat muda dan kini tegak mengacung. Panjangnya kutaksir
tidak kurang dari 20an cm, jauuuh lebih besar dari kemaluan punyaku,
sementara besarnya sekitar 2 sampai 3 kali lipatnya. Sungguh aku tak
percaya, laki-laki semuda Marco memiliki penis sebesar dan sepanjang ini.
Ternyata betul laki laki berdarah Ambon yang berdarah panas rata rata
memiliki alat kelamin yang berukuran raksasa!. Kini kusaksikan dengan
mata kepalaku sendiri kedahsyatan ukuran kemaluan lelaki Ambon yang
begitu luar biasa!.
Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemes dan penasaran. Sejenak aku
sempat membayangkan kerusakan fatal yang bisa terjadi apabila penis yang
besar dan keras itu dientotkan ke vagina perempuan. apakah wanita akan
merasa nikmat??
Marco memergoki tatapan mataku.
"Besaran mana sama milik Bang Tio hayoo..? " Goda Marco.
Aku tidak menjawab karena kenyataannya aku mengakui, penis Marco jauh
lebih panjang dan lebih besar dibandingkan punyaku. Padahal usia Marco
jauh lebih muda.
Kini tubuh telanjang Marco mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika
merasakan dada bidang Marco menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang
melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru
kali ini kurasakan lagi dekapan sesama lelaki. Aku menggeliat geliat dan
Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal
lelah menggerayangi sekujur tubuhku.
Sekali lagi, sudah lama sekali aku tidak pernah kurasakan sensasi dan
rangsangan sedahsyat ini.
Marco memaksaku tetap berbaring telentang diatas tempat tidur.
Selanjutnya dia berjongkok dari tepi tempat tidur. Kedua kakiku
ditekukkannya ke atas. Mulutnya segera menari-nari didaerah
selangkanganku. Kontolku yang tegak mengacung keras dioralnya dengan
buas. Mulutnya tak henti menghisap, lidahnya terus menjilat, giginya
sesekali menggigit-gigit lembut batang kontol dan buah pelirku yang
penuh jembut.
Ohhhhhh......mengapa begitu nikmat??. Mengapa aku bisa menikmatinya???.
Tiba-tiba terbersit bayangan istriku dimataku. Ooooh... Aku merasa
bersalah pada istriku, karena ternyata aku menikmati cumbuan sesama
lelaki lagi. Lobang pantatku yang sudah bertahun tahun tak tersentuh
laki laki juga tak lupa dikerjai Marco. Kenapa dia tak merasa jijik
menjilati lobang pelepasanku itu?. Mengapa lidahnya tak sungkan-sungkan
menerobos celah sempit itu?. Aku mengerang-erang diantara rasa nikmat
yang kurasakan. Deru nafasku memburu bak banteng liar marah.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang basah berlumuran air liur
yang masuk dan menggelitik lubang anusku. Ternyata Marco nekat
memasukkan jari tangannya kecelah pantatku.Ia memutar-mutar telunjuknya
didalam liang duburku, menggelitik prostatku, sehingga aku benar-benar
hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat
serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku
memutar-muatarkan pantatku. Toh, aku masih pura pura berusaha menolaknya.
"Marc, jangan dimasukkan jarinya, cukup diluaran saja..!" Pintaku.
"Tidak apa apa, jangan takut sayang...!" Dan lagi-lagi Marco tidak
menggubrisku. Selanjutnya ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku,
lalu bibir dan lidahnya melumat habis selangkangan dan pantatku. Aku
tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan
kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Marco yang masih
melahap batang kemaluan dan jari tangannya yang dimasukan ke lubang
pantatku. Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi.
Rasanya geli, enak, dan sedikit sakit. Oooooohhhh...... tapi sakitnya
tak sebanding dengan rasa enaknya. Begitu nikmat. Tak kusangka lobang
pantat bila disodok-sodok dengan jari seperti ini ternyata enak.
Napas Marcopun sudah mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah
meningkat. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar
dihadapanku dan aku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat.
Jari jari tangan Marco terus mengorek-ngorek lobang pantatku dan mencoba
melebar-lebarkan lobang sempitku itu. Mulutnya tak henti menghisap
batangku. Lobang pantatku sepertinya mulai semakin melebar. Kini dua
jari Marco sudah bisa masuk kedalam. Lobang pantatku terasa penuh. Aku
semakin terangsang oleh isepan mulut Marco yang demikian hebat. Tubuhku
basah bersimbah keringat. Begitupun tubuh Marco.
Melihat gelagatku yang sudah tak berdaya dikuasai nafsu birahi, Marco
beranjak dan dengan cepat ia menindihku dari atas. Dari kaca lemari yang
terletak disebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuhku
seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Marco yang tinggi besar
mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca
lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh sesama
lelaki yang juga sedang telanjang bulat.
Marco kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi,
aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk
menggelitik rongga mulut Marco. Marco terpejam merasakan seranganku,
sementara tangan kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan
dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi
masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh
Marco. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal
mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika
kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Marco.
Mendadak sepasang paha kukuh Marco menggeser kedua kakiku sampai
selangkanganku terbuka lebar lalu kurasakan batang zakar itu mengganjal
tepat dibibir lubang duburku yang sudah licin dan basah berlepotan air
liur. Rupanya Marco nekat berusaha memasukkan batang penisnya
kepantatku. Tentu saja aku tersentak dan menolak...!!.
Marco kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi,
aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk
menggelitik rongga mulut Marco. Marco terpejam merasakan seranganku,
sementara tangan kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan
dilepas lagi.
Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi
masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh
Marco. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal
mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika
kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Marco.
Mendadak sepasang paha kukuh Marco menggeser kedua kakiku sampai
selangkanganku terbuka lebar lalu kurasakan batang zakar itu mengganjal
tepat dibibir lubang duburku yang sudah licin dan basah berlepotan air
liur. Rupanya Marco nekat berusaha memasukkan batang penisnya
kepantatku. Tentu saja aku tersentak dan menolak...!!.
"Marc.. jangan dimasukkan..! " Kataku sambil tersengal-sengal menahan
nikmat.
Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus , sebab disisi hatiku
yang lain sejujurnya aku juga penasaran ingin merasakan bagaimana
rasanya batang kemaluan yang besar itu masuk kelubang anusku.
"Taangguung, saayang. Aku nggak tahhan..! " Ujarnya dengan terus
menggesek gesek bibir duburku secara perlahan.
Ah dasar laki laki!, Marco tahu persis kalau aku sudah dimabuk oleh
gesekan batang kejantanan sesama lelaki,
Marco menggenggam lenganku, kemudian dia menahanku dan kini dia menindih
badanku dengan badan dia sampai aku tidak bisa bergerak, aku melihat
wajahnya yang agak memerah, dengan nafas tersengal-sengal keringatnya
menetes di wajahku. Dia memagut bibirku, dan aku begitu bernafsu ketika
Marco menciumiku.
Aku merasa sangat gugup dan takut, aku melepaskan ciumanku dan berusaha
menolak Marco. Marco pun mulai memaksa, dia menepis tanganku dengan
sangat nafsunya Marco menggenggam kedua tanganku ke atas kepalaku dan
dia menggenggam kedua tanganku dengan hanya sebelah tangan saja, aku
tidak berdaya.
Aku panik dan ketakutan "Marco jangan! aku takut!" suaraku bergetar
pelan karena ketakutan,
"Sssssttt...." Marco menyuruhku untuk diam tetapi aku semakin ketakutan
"Aku sayang sama Abang..."
bujuknya.
BERSAMBUNG ...............

Comments
Post a Comment