KUPU KUPU JANTAN (PART 7)

KUPU KUPU JANTAN
Part: 7
By: Az Marko

Kehidupan didunia ini tak lain adalah sebuah proses. Yang dimana setiap proses pasti akan menemui pada satu titik. Mungkin titik terang yang sebenarnya adalah bukan kehidupan didunia, melainkan kehidupan yang bermuara pada kebajikan dan keabadian, tentu saja untuk mencapai titik itu kita perlu melewati sebuah proses. Kehidupan juga tak lain seperti filsofi kupu-kupu yang setiap detiknya terus bermetamorfosis menjadi sesuatu yang indah dipandang. Yang awalnya hanya berbentuk abstrak yang tak pernah manusia fikirkan lalu kemudian berubah menjadi seekor ulat yang keberadaanya dianggap menggelikan dan menjijikan. Tak ada sesuatu yang berharga dari sebuah ulat. Meski demikian.. ulat itu tetap bertahan hidup selama beberapa waktu sampai kemudian diapun lelah dan menyerah. Saat itulah ulat bermetamorfosis menjadi sebuah kepompong. Entah berapa lama dia menjadi kepompong, yang pasti itu adalah bagian dari turbosilensi sebuah proses. Proses itulah yang membutuhkan kesabaran dan penuh perjuangan. Dimana ulat itu bisa mati sia sia dalam berbentuk kepompong atau terlahir kembali menjadi sesuatu yang baru, bukan lagi yang berbentuk menggelikan atau menjijikan tapi menjadi sesuatu yang indah dipandang mata. Yakni seekor kupu-kupu.

Kepompong yang menjadi kupu-kupu artinya dia adalah pemenang. Dan lihatlah pada diri kita? Bukankah diri kita adalah seorang pemenang? Bukan hanya pemenang tapi seorang pemimpin. Ya setiap manusia terlahir menjadi khalifah atau pemimpin didunia ini. Lantas apakah setelah menjadi kupu-kupu lalu metamorfosis itu selesai pada titik itu? Tidak. Metamorfosis itu masih terus berlangsung. Itulah kenapa dia mempunyai sayap dan sama seperti kita itulah kenapa kita mempunyai otak dan tubuh.

Kupu-kupu itu terus terbang dari satu tempat ketempat lain dan dari waktu terus bermatomorfosis. Ingat tak semua kupu-kupu dipandang indah oleh yang melihatnya. Karena itu dia terus bermetamorfosis bersatu dengan warna, bukan hanya warna yang terdapat pada pelangi melainkan semua unsur warna kehidupan sampai akhirnya dia bermuara pada satu titik. Yakni titik keabadian dan kebajikan.

**

“Woww bagus sekali? Ini kamu yang gambar?” Fajar mengangguk setelah dia baru saja mengganti pakaianya yang basah. Aku terus terkagum pada lukisan yang membuat dinding rumah ini terlihat elegant.  Sudah kuduga fajar ada bakat menjadi pelukis. Jika dikembangkan dia bisa menjadi pelukis hebat didunia, tapi kenapa dia malah memilih jalur menjadi penulis.

“Fajar kamu ini ada bakat menjadi seorang pelukis. Kenapa kamu malah belajar menulis ditempat saya”

“Tidak salah kan kalo aku belajar nulis?” aku menggeleng

“Ibu dan saudara kamu kemana?”

“Mereka belum pulang. Mungkin malam nanti mereka baru pulang” Fajar bicara dengan santai. Tak ada lagi rasa kaku di-dirinya. Seolah dia telah menjelma menjadi dirinya sendiri.

“Fiyan.. boleh aku bertanya?”

“Ya.. kenapa?”

“Apa kau bersikap baik karena mempelajari agamamu?”

Sorot matanya kosong. Seakan cerita hidupnya  tertumpahkan pada kalimat yang baru saja ia lontarkan padaku.

“Tentu saja. Islam selalu mengajarkan kebaikan pada setiap pemeluknya”

“Benarkah itu? Lalu kenapa banyak muslim yang mengerti islam tapi malah hanya untuk dijadikan topeng?”

“Maksudmu?”

“Orang tuaku cerai belum lama ini. Dan ini karena dedy memeregoki mama yang selingkuh dengan seorang ustad tetangga kami dulu. Sebetulnya aku sudah lama tau kalo mama bermain gila dengan ustad itu. Tapi aku tak berani mengatakanya pada dedy. Aku kasian sama dedy, dia yang mati matian bekerja keras untuk kehidupan aku dan mama, tapi malah dibalas dengan tindakan mama yang menduakan dedy. Ketika dedy menceraikan mama, ingin rasanya aku ikut dengan dedy. Tapi mama malah membawaku kemari dan menjauhkanku dengan dedy, sekarang aku sama sekali tidak tau dimana keberadaan dedy. Disini mama yang mengatur hidupku, membatasi pergaulanku. Karena itu aku tak diizinkan mama sekolah. Kata mama untuk menjadi sukses tak harus sekolah. Semakin hari.. aku sudah benar-benar tak kuat hidup dengan mama. Kehidupanku seolah ada ditangan mama. Mama semakin gila, segala sesuatu ia lakukan untuk mendapatkan uang. Aku rindu dengan dedy, dengan kehidupanku dulu. Dan semua ini karena ustad itu. Ini semua bermula karena ustad itu, katanya dia mengerti agama? Apakah itu yang diajarkan islam sofiyan?”

Aku nyaris tak percaya yang barusan bicara seperti itu adalah fajar. Sosoknya yang selama ini pendiam dan begitu tertutup, tapi kali ini dihadapanku ia akhirnya menumpahkan atas apa yang ia rasakan selama ini. Aku bisa membayangkan betapa tersiksanya hidup fajar. Fajar yang tengah tumbuh menjadi seorang remaja harusnya ia sekarang mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang tuanya. Bukan malah menanggung beban seberat ini. Karena itu pasti akan berpengaruh pada fikiran dan pertumbuhanya. Aku diam beberapa saat lalu aku menjawab pertanyaan fajar itu, apakah itu yang diajarkan islam?

“Tentu tidak. Islam itu agama yang indah. Islam selalu mengajarkan kebaikan sesuai yang diajarkan kitab suci Al’Qur’an dan hadist nabi. Jika ada muslim yang berbuat salah, itu bukan karena ajaranya. Atau karena agamanya yang tidak baik. Bukan sama sekali. Itu karena orang itu sendiri. Jadi kamu salah jika menganggap ajaran islam itu membuat orang tidak baik. Justru malah sebaiknya islam selalu mengajarkan kebaikan”

“Tapi ustad itu? Bukankah dia mengerti islam”

“Fajar dengarkan saya. Jika ada seseorang yang mengaku ngaku pemain bola hanya karena dia memakai kaos bola? Apa dia bisa disebut sebagai pemain bola? Apakah jika ada juru masak yang memakai seragam dokter apa dia mengerti obat-obatan dan segala jenis penyakit?”

Fajar menggeleng..

“Nah.. jadi begini, masuk islam itu mudah hanya dengan menyebutkan syahadat. Orang itu sudah menjadi seorang muslim. Tapi tidak berarti dia sudah mengerti seluruh ajaran islam bukan?”

“jadi ustad itu memakai agama untuk dijadikan topeng?”

“Seperti yang saya bilang tadi. Ajaran islam sudah baik. Hanya orang-orangnya yang tidak baik. Dan saya yakin ini terjadi bukan hanya pada agama islam saja. Tapi pada semua agama yang ada di dunia ini. Itulah manusia... terkadang yang beragama saja tidak baik. Apalagi yang tak mau beragama dan mengerti agama?”

Tak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Aku langsung mengucap hamdalah karena saat ini aku bisa kembali bertemu dengan waktu magrib dalam keadaan sehat wal’afiat.

“Sudah adzan.. saya pamit pulang?”

“Loh kenapa? Kan tadi sudah kubilang beribadah dirumahku saja. Kau bisa ibadah dikamarku”

“Baiklah aku ambil wudhu dulu..”

“Sebelum ambil wudhu.. kau minum dulu? Dari tadi kita asyik bicara sampai kau lupa meminum hot lemon tea buatanku?”

Aku nyaris lupa dengan secangkir hot lemon tea yang fajar buatkan untuku tadi. Darimana dia tahu aku suka hot lemon tea. Mungkin dia diam diam sering memperhatikan elma yang membuatkan hot lemon tea untuku ketika dipondok.

“Nanti saja setelah sholat. Aku bisa pinjam toiletnya? Karena sebelum sholat saya harus membersihkan badan terlebih dahulu”

“Ia aku tahu, tapi ayolah kau minum dulu. Kalo sudah dingin kan gak enak”

“Oke.. saya minum.”

Kedua mata sipit fajar sangat memperhatikan dengan jeli bagaimana aku meminum lemon tea panas buatanya. Dua bola matanya yang beberapa waktu lalu kosong seolah kini terisi kembali dengan cerita yang belum ia tuahkan dalam ucapan.

**

“Pak.. kalo sofi sama yanti ini kupu kupu cantiknya bapak. Masa fiyan juga kupu-kupu? Memang ada pak kupu kupu laki laki?” Mbak Sofi kecil yang ada dipangkuan bapak memang bawel. Jika sudah berkumpul bertiga dia tak mengizinkan aku dan mbak yanti duduk dipangkuan bapak.

“Jangan salah. Kupu-kupu itu ada jenis yang betina dan ada yang berjenis jantan. Nah sofiyan ini adalah kupu-kupu jantan bapak. Kupu kupu jantan yang gagah. Soleh. Dan menawan” sahut bapak menimpali ucapan mbak sofi kecil. Bapak hanya mengelus ngelus rambutku. Aku hanya menikmati suasana sore taman berumput hijau yang jika sore hari terdapat banyak kupu-kupu.

“Pak itu kupu-kupu yang diatas pohon andong kok dari tadi terbangnya disekitar situ saja? Tidak seperti teman temanya yang terbang sangat tinggi” Bapak tertawa mendengar kata-kataku. Sementara mbak sofi dan mbak yanti kecil matanya tertuju pada kupu-kupu yang aku tunjuk barusan.

“Fiyan. Kupu-kupu itu perlu proses untuk terbang tinggi keatas. Lihat warnanya saja masih kusam. Dia perlu proses menjadi kupu-kupu yang indah lalu bisa terbang tinggi seperti teman temanya”

“Proses itu apa sih pak?” kataku dengan polos. Bapak berdiri, disusul dengan mbak yanti dan mbak sofi kecil. Kemudian bapak mengendong keduanya. Aku menangis karena tak digendong bapak. Mbak sofi kecil menertawakan aku. Aku berhenti menangis karena baru saja ingat petuah bapak dihari lalu. “Lelaki tidak boleh cengeng yan..” ya kata-kata itu selalu terngiang dibenaku jika aku menangis keras. Lalu bapak pergi dengan menggendong mbak yanti dan mbak sofi kecil, tanpa mengajaku. Tanpa menjawab pertanyaanku tadi “Proses itu apa sih pak?”

**

Aku bangung dan langsung mengucap dzikir dan terus ku-ulangi. Bapak... Mbak sofi kecil. Mbak Yanti kecil. Ya Allah mimpi itu begitu nyata. Apa maksud dari mimpi itu?. Aku sadar kini aku tengah berada disuatu kamar, tapi bukankah tadi aku sedang bersama fajar? Kemana anak itu?. Aku langsung bangkit dan begitu berdiri betapa terkejutnya diriku karena mendapati diriku saat ini tak berpakaian sama sekali. Tak satu helai benangpun yang tersisa ditubuhku. Aku langsung menutupi tubuhku dengan selimut. Astagfirullah. Apa yang sudah terjadi padaku. Ada seseorang yang melucuti pakaianku, perlahan kuambil pakaianku yang berserakan dilantai. Setelah menganakan pakaian lengkap aku berusaha mencari fajar. Tapi rumah ini kosong. Teriakanku dari tadi yang memanggil nama fajar hanya sia-sia. Aku langsung keluar dari rumah itu dan masuk kedalam mobilku. Sebelum melajukan mobilku, aku berusaha mengingat apa yang terjadi sampai sampai pakaianku terlepas, tapi aku tak ingat sama sekali. Dari balik kaca mobil rumah elma yang tadinya gelap kini sudah terang. Mungkin elma dan pak imran sudah pulang dari kios sop buahnya. Aku mengurungkan niatku untuk mampir kerumah mereka. Segera aku melajukan mobilku dengan cepat sambil terus berdzikir disepanjang jalan.

Ada air mata yang tak menetes dikedua bola mataku. Ya Allah apa yang sebenarnya telah terjadi padaku. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan. Air mataku seakan tak mau menetes. Mungkinkan karena ucapan bapak dimimpi tadi? “Lelaki tidak boleh cengeng yan..”




“Sofiyan.. kenapa diluar ayok masuk”

Ibu ainun tahu tahu sudah dibelakangku membawa sebuah kantong pelastik. Aku langsung mencium tangan ibu mertuaku itu.

“Ibu dari mana?”

“Ini malem-malem istrimu malah kepengen rujak. Untung mang sadili masih buka. Ayok cepet masuk” kata bu ainun yang masuk lebih dulu. Aku mengekorinya dari belakang.  Fatma ternyata sedang duduk didepan tv, dia langsung mencium tanganku tanda hormatnya sebagai istri terhadap suami.

“Mas kok malam banget?” tanya fatma dengan heran memperhatikan diriku

“Ia.. tadi hujan. Aku mampir dirumah ibu dulu?”

“Sudah mandi dan sholat?”

Kulihat jarum jam dinding menunjukan keangka 10. Ya Allah ternyata sudah jam sepuluh malam. Apa yang aku lakukan dari magrib tadi dirumah fajar?

“Mas.....”

“Sudah kok” kataku berusaha meyakinkan fatma. Padahal aku sendiri tak ingat apakah aku ini sudah mandi atau sholat. Batinku menangis. Ampuni aku Ya Allah..

“Kamu tumben malam-malam begini pengen rujak? Kenapa tadi gak telephone aku. Kan kasian ibu malem malem keluar?”

“Mau telephone gimana mas. Orang nomormu gak aktif?”

Degg... jantungku kembali berdegup kencang. Ingin rasanya aku meraih ponsel dari saku celanaku. Tapi aku tak mau fatma sampai curiga dan kebingungan.

“Ohh.. ia tadi batrenya habis”

“Yasudah.. mas, aku punya kabar bahagia buat kamu. Sebentar lagi kamu jadi seorang ayah mas”

“Apa kamu serius..? Kamu... kamu hamil?”

Fatma mengangguk, Bu ainun hanya tersenyum melihat reaksiku saat ini.

“Alhamdulillah ya Allah.. “ Aku langsung mencium kening istriku. Dan mencium perut istriku yang didalamnya ada janin buah cinta kami. Akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih kau telah mengabulkan doa kami Ya Rabb..

**

Siang ini aku baru saja pulang dari rumah ibu dan telah menyamampaikan kabar bahagia itu. Ibu sangat senang bukan main, baru kemarin malam anaknya mbak sofi lahir. Dan beberapa bulan lagi ibu kembali akan menimang cucu. Kali ini dari buah cintaku bersama fatma. Mba sofi dan bang safir sangat senang mendengar kabar itu mereka juga malah sempat meledeku. Katanya kalo anaku laki-laki. Nama yang sudah aku berikan pada anak mereka jangan aku ambil kembali. Aku hanya tertawa mendengarnya..



Bu Ainun hanya diam tanpa mengeluarkan suara ketika aku baru saja masuk kedalam. Bahkan dia tak menjawab salamku tadi, sementara Pak Kyai memang saat ini tengah berada di subang mengurus pondok pesantren yang berada disana.

“Ibu kenapa?” Kataku pada ibu mertuaku itu, tapi dia hanya diam saja. Lalu berdiri meninggalkanku dan bergegas menuju kamarnya. Aku masih berdiri mematung mengingat kesalahan apa yang aku lakukan sampai ibu mertuaku tak mau bicara denganku, bahkan ia sama sekali tak melihat kearahku. Sangat tak seperti biasanya.

Aku langsung masuk kedalam kamar, Fatma sedang duduk disudut ranjang membelakangi pintu. Suasana hening, kali ini fatma yang tak seperti biasanya. Kenapa ia tak menyambutku? Kenapa ia tak mencium tanganku seperti biasanya?. Sayup-sayup terdengar suara isak tangis fatma. Tapi ia masih membelakangiku.

“Kamu semalam kemana mas?” Fatma bersuara dengan sangat keras dan lantang. Namun suara itu tak bisa membohongi jika suara itu iringi dengan suara isak tangisnya.

“Aku.. aku dari rumah ibu? Kamu Kenapa menangis?”

“Sejak kapan kamu membohongiku? Sejak kapan kamu gak jujur sama aku?”

“Kamu bicara apa sayang..”

“aku bilang sejak kapan kamu membohongiku?” fatma membalikan tubuhnya, lelehan air mata masih mengalir dipipinya. Wajahnya merah dan menyiratkan penuh kemarahan.

“Aku tidak pernah membohongimu fatma. Kamu ini istriku?”

“Ya.. aku ini istrimu. Tapi mungkin aku hanya sandiwara kamu mas. Ini apa?”

Fatma menyerahkan beberapa lembar foto padaku. Aku nyaris tak percaya. Saat ini yang aku lihat adalah foto diriku sendiri yang tengah tak menganakan sehelai kain pun. Dari mana fatma mendapatkan foto ini. Dan siapa yang mengabadikan diriku dalam keadaan seperti ini.

“Masih kamu bilang semalam dari rumah ibu?”

“Tunggu.. kamu dapatkan ini darimana? Aku bisa jelasin semuanya sama kamu. Semua ini gak seperti yang kamu fikirkan. Aku juga gak tau kenapa aku bisa dalam keadaan seperti itu”

“Sudahlah mas. Semuanya sudah jelas. Kamu masih mau mengelak.? Aku kurang apa sih mas sama kamu? Dan satu lagi, kenapa dari awal kamu gak jujur.? Ya Allah jadi selama ini pernikahan kita Cuma buat kedok kamu aja mas?”

“Sayang.. Demi Allah aku mencintaimu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu gak perlu berteriak seperti ini”

“Sudahlah mas. Aku udah gak percaya lagi sama kamu. Dan yang perlu kamu tahu. Anak itu tadi kemari dengan ibunya, Ibunya bilang jika kasus ini tidak mau dibawa kejalur hukum. Dia minta ganti rugi sebesar dua milyar untuk mengobati mental anaknya yang kamu rusak. Bukan Cuma itu, dia juga mengancam akan menyebarkan foto itu kepublik”

“Ini pemerasan namanya. Fatma tolong kamu percaya padaku. Aku dijebak oleh anak itu.”

“Dijebak? Sekarang kamu lihat yang ini. Kamu masih bisa bilang kalau kamu dijebak?”

Fatma kembali melemparkan beberapa foto padaku. Ya kali ini foto yang berbeda, itu fotoku dengan anwar. Difoto itu bibir kami tengah bersentuhan dengan keadaan telanjang dada. Dari mana fatma mendapatkan foto ini. Aku tak menyangka jika dulu anwar mengabadikan momen ini.

“Masih kamu bisa bela diri kamu mas? Masih kamu bisa bilang kamu dijebak? Pantas saja dulu diawal menikah kamu tak mau menyentuhku. Jadi karena ini mas?” Tangis fatma kembali pecah. Air mataku kini mengalir begitu saja.

“Sayang.. aku minta maaf jika aku tidak menceritakan seluruhnya tentang diriku. Itu aibku.. aku merasa malu dan belum ada nyali untuk mengatakanya padamu. Itu anwar.. dia masa laluku. Mungkin dulu aku pernah berbuat salah denganya, mungkin dulu aku pernah salah mengartikan sebuah perasaan. Tapi yang perlu kamu tau, ketika aku menikah denganmu aku sudah terlepas dari semua itu. Aku menikah denganmu karena aku benar benar mencintaimu. Bukan sandiwara. Bukan pura-pura.. itu adalah masa laluku, tak mungkin aku mengulangi dosa itu lagi”

“Ya mas lalu... tapi kini buktinya apa mas? Kamu mengulanginya lagi. Memang bukan dengan orang yang sama, tapi dengan anak didikmu sendiri. Dua jam setelah anak dan ibu itu datang kerumah. Lelaki itu juga datang dengan menunjukan foto mesra dirimu denganya. Dan dia juga meminta tebusan dua milyar. Dan setelah ini apa masih akan ada lelaki lain yang datang kerumah ini karena ulahmu mas?”

“Sayang... aku butuh dukungan kamu saat ini. Kalau istriku sendiri saja tak percaya dengan diriku, Aku sangat merasa tak berdaya”

“Sudahlah mas.. semuanya sudah cukup jelas buatku. Jadi total yang harus kita berikan untuk menyelamatkanmu sebanyak empat milyar. Nanti sore aku akan ambil tabunganku untuk membayarnya pada mereka sehingga nama baik kamu sebagai penulis tetap terjaga dan repotasi dikeluarga atau lingkunganmu tetap baik.”

“Bukan itu yang aku inginkan fatma. Aku tahu, uang-uangmu itu cukup. Jika uang yang jadi masalahnya aku bisa berikan lebih pada mereka. Bukan nama baiku sebagai penulis yang aku takutkan melainkan yang aku takutkan dan sayangkan adalah, istriku sendiri tak mempercayaiku sebagai suaminya”


Dzikir yang terucap siang ini begitu sesak. Air mataku seakan tak mau berhenti menetes. Aku faham sekarang, kenapa tadi malam fajar mengajaku kerumahnya, jadi dia dan ibunya bekerja sama dengan anwar untuk menghancurkan keluargaku. Ya Allah aku memang pernah melakukan dosa itu tapi jangan kau uji aku dengan karma dari dosa yang pernah aku lakukan itu. Bukankah dulu siang malam aku bersujud padamu, bukankah air mataku terus menetes disetiap sujud menyesali dosa yang pernah aku lakukan itu.

Aku terus melajukan mobilku kerumah ibu. Mungkin disana aku bisa menuahkan perasaanku saat ini ketika istriku sendiri tak percaya sama sekali padaku.

**

Air mata ibu menetes meski tak sebanyak tadi. Kepalaku kini berada dipangkuanya. Jari jari ibu dengan pelan mengusap rambut ikalku.

“Ibu yakin ini fitnah. Ibu yakin anak ibu ini tidak seperti itu. Fir.. kita harus bantu sofiyan. Kasian dia..” kata ibu ditengah isak tangisnya pada bang safir dan mbak sofi yang sedang menggendong jagoanya, Alfattah.

“Ini pemerasan kalo seperti ini yan. Kita bisa laporkan mereka. Abang punya banyak kenalan yang bisa menangani kasus ini yan” sahut bang safir, kata-katanya sedikit menenangkanku.

“Jangan bang. Kita untuk sementara jangan sangkut pahutkan pada polisi dulu. Yang penting sekarang fiyan harus menemui anak itu dan ibunya”

“Tapi ini bisa mencemarkan nama baik kamu sebagai penulis yan?” mbak sofi ikut menimpali

“Benar kata mbak-mu yan” jawab bang safir.

“Jangan bang. Fiyan mohon doanya saja semoga masalah ini cepat teratasi. Yang paling penting itu sekarang fatma. Dia sama sekali tak percaya dengan fiyan”

“Ya Allah.....” kata ibu sambil mengelus dadanya. Aku bangkit dan duduk disamping ibu. Kuciumi tanganya, lalu keningnya. Ya Allah terima kasih kau menitipkan seorang ibu yang hatinya seperti malaikat. Aku sudah menceritkan masa laluku dengan anwar pada ibu, bang safir serta mbak sofi. Itu adalah satu-satunya aib yang keluargaku sendiri saja tak tau, dan selama ini hanya aku simpan seorang diri. Dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakanya. Ibu dan mbak sofi menangis mendengar pengakuanku. Mereka beristighfar tapi sesaat mereka lega karena itu bagian dari masa laluku dan hanya keluargaku yang tau seperti apa ketika aku bicara dalam penyesalan atau keyakinan.

**

Sorenya elma datang bersama pak imran. Mereka ikut bersedih atas apa yang menimpaku saat ini. Elma tak habis fikir anak seusia fajar bisa melakukan tindakan ini. Pak imran malah geram mendengar ceritaku dan berjanji padaku jika dia berjumpa dengan fajar dia akan mencekik anak itu. Aku melarangnya, bukan itu yang aku inginkan melainkan bisa bertemu dengan fajar dan ibunya. Pak imran bilang padaku dia sangat yakin jika fajar hanya mengikuti perintah mey liem ibunya.

“Mey liem sepertinya dibantu oleh seseorang. Tadi malam ketika kami pulang kerumah. Bapak heran karena mendapati mobil nak fiyan berada didepan rumah mey liem. Tapi tak lama ketika kami masuk mey liem datang dengan seorang pria bermobil yang biasa kerumahnya. Bisa jadi pria itu yang membantu mey liem untuk menjeba nak fiyan”

Mendengar ucapan pak imran. Aku sudah yakin pria yang bersama ibunya fajar itu adalah anwar. Dia dalang dari semua ini..

“Apa mereka masih ada dirumahnya?” kataku pada elma

“Tadi begitu elma tau kabar ini, sebelum elma dan bapak kerumah mas fiyan, terlebih dahulu elma kerumah fajar. Tapi rumah itu terkunci. Sepertinya mereka sudah tak menetap dirumah itu. Karena kalaupun mereka pergi, anjing yang berada didepan rumahnya tak serta mereka ikut bawa. Tapi kali ini anjing itu mereka bawa” sahut elma menjelaskan. Aku kembali berdzikir dan terus berdzikir. Apa maksud dari semua ini Ya Allah.

**

Malam hari setelah isya, Aisyah datang bersama suaminya Mas Ridwan. Bisa kulihat dari raut wajahnya aisyah sangat bersedih atas apa yang menimpaku. Aisyah adalah temanku dari kecil, dia orang yang cukup mengenal dan mengertiku setelah keluargaku. Aisyah duduk disampingku, didepan teras rumah. Sementara Mas Ridwan sedang bicara dengan bang safir mengenai masalah yang tengah menimpaku.

“Kamu yang sabar ya yan.. Allah gak tidur. Pasti tidak lama lagi Allah akan membuktikan kuasanya dan melihatkan siapa yang benar dan siapa yang salah”

“Mohon doanya ya syah. Aku Cuma butuh dukungan saat ini. Kamu percaya kan sama aku?”

Mendengar ucapanku, Aisyah malah tertunduk tak berani menatapku dan diam beberapa saat.

“Aisyah... kamu percayakan padaku?” kataku mengulangi ucapanku tadi. Perlahan Aisyah mengangkat kepalanya.

“Aku ragu yan.. Sebenarnya aku ingin yakin kau tidak melakukanya. Tapi aku ragu..”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Aku ragu karena masa lalumu..”

“Apa maksud kamu Aisyah...”

“Sudahlah yan.. Aku tau semuanya. Kamu tau kan yan, dari kecil kita ini selalu bersama. Dari masa Sd sampe kuliah kita bareng yan. Wajar kalau aku ada rasa sama kamu yan. Bukan perasaan sebatas sahabat. Lebih dari itu, dan semakin kita tumbuh menjadi dewasa akupun yakin kalo aku cinta sama kamu yan, tapi semenjak kamu mengenal anwar. Kamu berubah, kamu selalu habiskan waktu denganya, kamu udah gak inget aku lagi. Hatiku hancur saat aku tahu kalian ada sebuah hubungan yang gak biasa. Meskipun begitu, perasaan cintaku sama kamu gak semudah itu hilang yan. Akhirnya aku terpaksa menerima lamaran mas Ridwan saat itu, karena mungkin dengan aku menikah dengan laki-laki lain aku bisa melupakan kamu yan. Dan Alhamdulillah kamu lihat sendiri, sekarang anaku sudah dua dan aku sangat mencintai suamiku saat ini.. Meskipun rasa itu terungkit kembali ketika aku tau kamu menikah dengan fatma..”

Aisyah menitikan air matanya, kami bertemu dalam satu tatapan. Aku diam beberapa saat. Sungguh tak kuduga selama ini Cut Aisyah menyimpan perasaan padaku.

“Tapi kenapa waktu itu kamu gak pernah bilang kalau kamu suka sama aku lebih dari sebatas teman?”

“Sofiyan.. aku ini wanita. Kamu ini cerdas, aku kira kamu bisa menilai dari perhatianku dulu sama kamu. Ternyata tidak, terlebih setelah kamu kenal dengan lelaki yang bernama anwar. Difikiran kamu Cuma ada anwar dan anwar. Kehadiranku terhalangi oleh anwar dimatamu yan”

“Aisyah.. maafkan aku jika aku selama ini menyakitimu. Sungguh itu bukan keinginanku. Dan yang perlu kamu tau. Selama aku menjalani hubungan dengan anwar, selama itu juga aku tersiksa. Selama itu batinku menjerit penuh keraguan atas diriku sendiri. Mungkin waktu itu aku salah mengartikan perasaanku syah. Tapi itu masa laluku, saat ini aku sudah sadar kalau itu adalah dosa besar. Saat ini aku yakin atas perasaanku jika dihatiku hanya ada cinta pada lawan jenisnya. Aisyah.. Demi Allah aku tak menyentuh sedikitpun anak itu, aku dijebak oleh anak itu. Anak itu suruhan anwar. Anwar tak terima karena aku saat ini sudah menikah dengan fatma”

Air mataku menetes, begitupun dengan air mata Cut Aisyah. Aku bersyukur dia akhirnya percaya padaku. Dan setidaknya hatiku sekarang sudah lega mengeluarkan perasaan yang aku pendam selama ini padanya.




Next Part...

Comments

Popular posts from this blog

CERITA GAY " SATPAM KONTOL BENGKOK "

Kontol Kang Yasin Terjepit Nikmat di Pahaku (Cerita Johan) #3

CERITA SEX GAY " SATPAM PLN "